Seorang Pekerja Harus bisa Mempertanggungjawabkan Pekerjaannya

Seorang Pekerja Harus bisa Mempertanggungjawabkan Pekerjaannya

 

Pekerjaan adalah sumber penghidupan dan sebagai mcara untuk mendapatkan biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari- hari.  Intinya dan yang pasti sebuah pekerjaan adalah sesuatu yang penting untuk manusia.

Karena sangat berharganya ssebuah pekerjaan, manusia berusaha dan dengan upaya atau cara apa pun untuk mempertahankan pekerjaannya. Atau bahkan selalu ingin dan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan  yang lebih..ebih… dan lebih baik lagi.

Namun kadang seseorang tidak suka menjalankan dengan baik profesinya. Dan kadang manusia atau pekerja tidak bisa bertanggung jawab akan profesinya. Dan tidak dapat  menerima atau menghadapi konsekuensi dari pekerjaannya.

Seperti sseorang dokter dan suster atau perawat. Mereka bertugas untuk merawat , mengobati dan merawat orang sakit. mereka harus bisa mengabdikan dirinya untuk itu, karena mereka juga mendapatkan sesuatu, atau gaji dari orang yang sakit itu. Mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, menyekolahkan anak, dan lain-lain juga karena itu.

Tapi mengapa keluarga saya mengalami hal tidak enak karena kelalaian mereka. Saya harus kehilangan seorang adik yang saya sayangi. Orang tua saya harus kehilangan anak yang masih berusia 2 tahun 7 bulan.

Terus terang saya , orangtua saya dan keluarga amat sangat menyayangkan dan sangat kecewa pada pihak rumah sakit,dan pihak- pihak yang ada didalamnya(pihak yang bertanggungjawab).

Pada tanggal 12-02-2011, adik saya masuk rumah sakit. saat itu kami membawanya kerumah sakit  pada hari sabtu malam minggu. Kami membawanya ke Rumah Sakit ternama, mahal,dan terkenal dikota itu. Karena saat itu adik panas tinggi. Suhu tubuhnya sampai 40,5 C. Karena hari sabtu, di rumah sakit tidak ada dokter. Adik dibawa ke UGD, dan disana ditangani dokter jaga. Adik ditangani, dan diambi darah untuk dicek darah. Ternyata trombosit bagus. Dan tidak ada fonis penyakit DBD atau Tifus. Namun, ade harus dirawat inap karena suhu badannya yang sangat tinggi, untuk berjaga- jaga. Adik masuk rawat inap. Jujur saya sangat tidak tega melihatnya diinfus. Ade tidak nangis atau mengamuk, dia hanya dia dan bilang ‘mama”. Padahal dia baru berusia 2 tahun. Semalaman saya menginap dirumah sakit, menemani mama, saya bersamaadik saya yang ke-2.

Saya bisa menemani adik semalaman saja di Rumah Sakit, karena keesokkan harinya saya harus balik keluar kota untuk kuliah. Hari minggu sore,saya  pergi untuk kesuatu kota untuk kuliah. Berat rasanya.

Senin,adik masih dirawat inap. Tidak ada indikasi DBD. Dokter hanya bilang adik sakit radang, badan adik panas karena radang. Namun, saat hari selasa pagi, saat itu tanggal merah, saya ada dikostan. Saya benar- benar tidak menyangka dan panik saat mendapat kabar dari mama, kalau adik masuk ruang PICU(ruang ICU untuk Bayi atau BALITA). Saya panik- dan buru-buru pulang kerumah. Ternyata adik sekarat . dalam perjalanan pulang saya menangis. Terbayang macam-macam. Sesampainya di Rumah sakit, di depan Ruang PICU, dari jendela saya melihat adik, yang terkulai lemah, dengan selang di badannya. Langsung saya masuk keruang PICU. Air mata sudah terbendung. Dan saya berkata “ ADIK kakak datang. Ade Lala bangun… Ade… Liat kakak!!!” tapi apa daya adik tidak sadar, namun matanya masih terbuka sedikit, namun tidak bisa menjawab apapun. Air mataku tambah mengalir deras. Yang biasanya aku melihat adik ceria, ketawa, bercanda dan membuat orang disekelilingnya senag, sekarang menangis untuknya. Adik dikelilingi alat- alat medis, ada tabung oksigen, hingga sinar untuk menghangatkan tubuhnya. Adik bernafas terengap- engap. Oh….Tuhan… aku tidak kuat melihat ini semua…. tapi aku harus menguatkan kedua orangtuaku.. ini cobaan terberat.

Jadi pada hari selasa pagi(subuh), diruang rawat ada mamah dan adikku yang ke-2 yang menemani ade Lala di Rumah Sakit. saat itu mamah panik, badan adik dingin banget, rambutnya  lepek, basah dan pada biru. Adik juga tidak sadar. Mama pencet bel untuk memanggil suster. Suster datang, dan mama menjelaskan pada suster apa yang terjadi pada adik. Suster menjawab  “tidak apa-apa bu… tenang aja.. anak  ibu mau sembuh. Tenang aja. Gapapa.”  Saat itu, suster hanya mengandalkan termometer . dan memberi obat. Seharusnya, suster selalu mengecek darah dan trombosit. Tapi apa? Suster hanya  mengandalkan termometer saja. Sampai akhirnya pas pergantian perawat  dipagi hari, mama mengadu lagi, dan perawat yang saat itu langsung mengambil tindakkan, mengambil darah dan cek darah. Tidak seperti perawat yang sebelumnya. Ternyata hasil tes menunjukkan adik kena DBD. Dan saat itu sedang kritis. Adik langsung dibaawa keruang PICU. Namun tetap saja tindakan telat. Perut adik sudah kembung, dingin, badannya juga bengkak tidak seperti biasa, ternyata pembulu darah diperut pecah, paru-paru sudah terendam cairan. Dan cairan dikeluarkan dari hidung. Lemas melihat kondisi adik.

Saat diruang PICU pun hanya ada perawat dokter tidak melihat dan mengecek kondisi adik. Papah tidak kuat melihat adik dan masuk keruang PICu. Akhirnya Om saya menelpon dokter, dan memintanya untuk datang dan tangani ade Syahla. Tapi, jawaban dokter sangat tidak mengenakkan saat menjawab dan mengetahui kalau yang menelponnya bukan orangtua pasien tetapi omnya. Dokter menjawab “saya tidak akan bicara selain dengan orangtua pasien.” Akhirnya menelpon ke DIRUT Rumah Sakit. baru dokter datang.

Sampai akhirnya dokter Cuma bisa bilang “daya tahan tubuh anak ibu ekarang yang bekerja. Kita lihat 24 jam dari sekarang. Ssekarang anak ibu dalam masa kritisnya. Dia mampu atau tidak untuk melewati masa kritisnya. “

Papah dan kelurga meminta dokter untuk membuat surat rujuk ke Rumah sakit lain yang Lebih besar. Tapi apa??!! Dokter bilang “tidak bisa dirujuk dan pasien dipindahkan gitu aja. Ini prosedur rumah sakit. “  dan papah menjawab “ lewati dahulu prossedur rumah sakit, liat pasien… anak saya sedang kritis!!! Lakukan tindakkan dulu!!” tapi tetep tidak bisa. Kami hanya menunggu. Aku dan mama menunggu adik di dalam ruangan.  Sampai pagi tiba. Kondisi adik semakin buruk. Ya… Allah… aku berharap muzizat darimu… sembuhkan adik… kuatkan adik. Jam 8 kurang dokter yang menangani adik belum datang juga. Akhirnya papah mencari dokter lain untuk menangani, dan istri teman papah yang seorang dokter yang menangani adik. Banyak suster yang menangani juga. Adik ingin diambil darah lagi, suster berupaya mengambil sampel darah adik, tapi susah… tidak dapat diambil. Badan adik ditusukkin jarum.. terus para perawat mencoba, dam mencoba- dan mencoba mencari saluran yang bisa diambil, tapi nihil. Darah adik sudah tidak bisa diambil. Dokter yang menangani adik baru datang dan tidak langsung menangani adik yang sedang benar- benar kritis. Dia duduk, dan menulis dimejanya. Entahlah aku tidak tahu dia menulis apa, dy hanya bilang pada para suster “coba terus! Cari Nadinya.” Dan suster menjawab “sudah dok, tidak bisa, dimana pun. Sampai di dekat infus! Nadinya sudah tipis. Gimana?” baru dokter bertindak. Kondisi adik juga makin parah. Lalu, dokter memompa dada adik dengan tangan, terus, terus.. , lagi…lagi…dan lagi.. sampai akhirnya.. layar dimonitor denyut nadi dan jantung… garis lurus… dan bunyi…” Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit” adiksudah tidak tertolong. Dan dokter bilang untuk terakhir kalinya “pembuluh dikepalanya sudah pecah”

Ruangan itu lalu ramai dengan suara jeritan dan tangisan. Mama dan papa pingsan. Sulit dipercaya. Dan darahku seperti berhenti untuk beberapa saat. Badanku pun lemas. Aku jatuh didekat tempat tidur adik. Selang-selang dibadan adik pun dilepaskan.

Ini semua seperti mimpi. Mimpi yang sangat buruk. Buruk sekali. Tapi ini nyata. Aku masih tidak percaya kalau adik pergi meninggalkan kami semua.

Dan hari itu juga adik dimakamkan.

Hari rabu, 16 februari 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s